Mediatama Prakarsa, Artikel - Di banyak sudut kehidupan, kita semakin akrab dengan satu sikap: diam. Diam di ruang kelas ketika kebenaran dipelintir. Diam di jalanan saat suara rakyat dipatahkan. Diam di meja makan ketika ketidakadilan hanya menjadi keluhan singkat sebelum akhirnya basi dan terlupakan.
Diam yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan, tanpa disadari, menjelma menjadi watak.
Dalam catatan sejarah Indonesia, nama Soe Hok Gie hadir sebagai pengingat bahwa bersuara bukan perkara mudah. Ia hidup di masa ketika kritik bisa berujung ancaman. Namun baginya, risiko terbesar bukanlah tekanan kekuasaan, melainkan hilangnya keberanian untuk marah.
Marah yang jujur dan terarah bukan sekadar luapan emosi. Ia adalah tanda bahwa nurani masih menyala. Bahwa hati belum mati. Sebab ketika seseorang tak lagi merasa terganggu oleh ketidakadilan, saat itulah sesungguhnya yang rapuh bukan sistemnya, melainkan kemanusiaannya.
Hari ini, ironi sering kita jadikan bahan lelucon. Tragedi berubah menjadi konten. Penindasan menjadi angka statistik. Kita membaca kabar duka, menggeleng pelan, lalu kembali sibuk dengan rutinitas. Seolah-olah semua itu tidak ada hubungannya dengan hidup kita.
Padahal bangsa besar tidak lahir dari orang-orang yang piawai menyesuaikan diri dengan kebusukan. Ia tumbuh dari kegelisahan. Dari mereka yang sulit tidur ketika melihat ketimpangan. Dari mereka yang merasa malu menikmati kenyamanan di atas penderitaan orang lain.
Marah, dalam makna yang paling murni, adalah keberanian untuk berkata: ini salah.
Yang paling berbahaya barangkali bukan tirani itu sendiri, melainkan masyarakat yang kehilangan refleks untuk menolak. Ketika kita lupa bagaimana caranya marah, kita sedang belajar bagaimana caranya tunduk.
Dan sejarah, seperti yang telah berulang kali membuktikan, tidak pernah ditulis oleh mereka yang tunduk terlalu lama. **
Follow Mediatama Prakarsa untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel
